Dr. Sugito Wonodirekso (Ketua Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia) : Tercapainya Pelayanan Berkesinambungan dengan Dokter Keluarga

Berbagai masalah kesehatan seperti munculnya pola penyakit yang berbeda menuntun peran dokter dalam berbagai upaya pelayanan kesehatan pun berubah. Dalam upaya kuratif, dokter masa kini harus siap untuk menolong pasien, bukan saja yang berpenyakit akut tetapi juga yang berpenyakit kronis, penyakit degeneratif dan harus siap membantu pasiennya agar dapat hidup sehat dalam kondisi lingkungan yang lebih rumit masa sekarang ini. Untuk itu ia harus mengenal kepribadian dan lingkungan pasiennya. Upaya prevensi pun bergeser dari orientasi kesehatan masyarakat lebih kearah kesehatan perorangan (private health).

Dampak pesatnya perkembangan spesialisasi dan sub spesialisasi telah menyebabkan fragmentasi profesi, hilangnya hubungan dokter-pasien akibat pelayanan kedokteran yang semakin berorientasi ke keterampilan laboratorium dan teknis. Dampak lainnya adalah meningkatnya biaya kesehatan sebagai dampak dari pelayanan spesialistis dan bergantung pada teknologi. Biaya perawatan demikian tingginya dan penanganan spesialistis demikian menonjolnya sehingga kasus-kasus yang telah lanjut memerlukan perawatan canggih dan spesialistik. Beberapa penilaian juga juga menyimpulkan bahwa pendidikan dokter yang menekankan pada pengajaran klinik di ruang perawatan tidak memberikan kemampuan yang memadai kepada peserta didik untuk menangani kasus-kasus di masyarakat dengan pendekatannya yang tentunya sangat berbeda.

Pengaruh berbagai faktor ini, mendorong kesadaran pentingnya peningkatan jumlah dan mutu jajaran pelayanan kesehatan tingkat primer. Disiplin ini berkembang secara epistemologis atas dasar dorogan kebutuhan akan layanan yang kemudian dikenal sebagai disiplin kedokteran keluarga. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Dokter Keluarga Sedunia (WONCA) telah menekankan pentingnya peranan dokter keluarga (DK) ini dalam mencapai pemerataan pelayanan kesehatan.

Menyadari situsai yang demikian, maka sejak tahun 2003 PT Askes (Persero) juga mulai mengembangkan konsep DK ini dalam pelayanan rawat jalan tingkat pertama (RJTP). Tujuannya memang agar peserta bisa mendapatkan pelayanan yang lebih “privat” dibandingkan dengan pelayanan di Puskesmas. Selain itu diharapkan dengan maksimalisasi DK sebagi provider, fungsi gate keeper dari segi pelayanan dan pembiayaan akan lebih baik, sehingga peserta dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari asuransi kesehatan.

Lebih jauh bersama reporter Info Askes, Diah Ismawardani menemui Ketua Perhimpuanan Dokter keluarga Indonesia (PDKI) Dr. Sugito Wonorekso. Dalam kesempatan ini, kita akan simak apa sebenarnya peran dan fungsi DK dalam dunia kesehatan Indonesia. Bagaimana fenomena kecenderungan masyarkat di Indonesia dalam mengakses pelayanan kesehatan serta kompetensi yang harus dimiliki seorang DK dalam tuntutan mampu menerapkan managed care saat memberikan pelayanan. Dan bagaimana tanggapan Sugito pengembangan DK oleh PT Askes (Persero). Berikut petikannya.

Sebenarnya apa filosofi dari DK?

Sebetulnya istilah dokter umum itu salah, jika dilihat dari istilah bahasa inggrisnya disebut dokter praktek umum. Jadi sebetulnya yang benar istilahnya dokter praktek umum dan dokter praktek spesialis. Sebetulnya di IDI istilah dokter umum sudah tidak dipakai lagi tetapi disebut dokter praktek umum sejak tahun 2000. Juga dalam UU kedokteran dikenal hanya dokter, dan dokter praktek spesialis. Jadi lulusan kedokteran itu namanya dokter praktek umum. Dengan gelarnya adalah dokter.

Sedangkan Dokter Keluarga (DK), sebetulnya adalah dokter praktek umum, hanya dalam prakteknya menggunakan pendekatan kedokteran keluarga. Pendekatan kedokteran keluarga itu prinsip pokoknya ada 4, pelayanan yang bersifat personal (invidual) bukan keluarga, pelayanan yang bersifat primer artinya hanya melayani sebatas dokter pelayanan primer, lalu komprehensif artinya DK sebagai Dokter praktek umum melayani 4 ranah pelayanan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Lalu yang ke empat adalah kontinyu, ini yang sering dilupakan para dokter prakter umum padahal hal tersebut sangat penting, the continuity of care atau kesinambungan pelayanan. Jangan sampai seseorang itu dilayani oleh banyak dokter, sehingga mengulang pelayanan lagi, pemeriksaan lagi, obatnya jadi double-double dan seterusnya. Demikian pula DK akan mengontrol, dalam tanda kutip tindakan spesialistis, mana yang perlu dan mana yang tidak.

Tanpa ada penerapan konsep DK Askes akan rugi, kebobolan terus karena tidak ada gate keeper-nya. Akhirnya pengeluaran yang dilakukan bersifat kuratif, padahal kalau mau menghemat biaya harus bagaimana supaya peserta jangan sakit. Bukan bagaimana mengobati setelah sakit. Tidak ada gunanya. Kuratif itu ibaratnya mau menggarami laut, tidak bisa.

Jadi filosofi DK sebagai dokter praktek umum memiliki filosofi dengan pelayanan personal primary continue comprehensive. Jadi memandang manusia seutuhnya sebagai makhluk bio psycho social.

Bagaimana dengan fenomena di Indonesia, seseorang sakit lalu lari ke RS dengan dokter spesialis langsung?

Sebetulnya dokter di Puskesmas harusnya menerapkan fungsi sebagai DK. Sehingga kalau merujuk pasien ke RS itu alasannya jelas. Mengapa dirujuk, apa alasannya, apa gunanya dirujuk, selain itu pasien juga harus tahu. Dan sebetulnya pihak Askes yang ingin rembuist juga berhak bertanya, mengapa pasien itu dirujuk. Padahal misalnya itu masih tergolong pelayanan primer. Disitu sebenarnya fungsi Askes.

Di Indonesia memang dokter di Puskesmas belum menerapkan fungsi DK, karena masih terbentur oleh sistem. Yang kedua terbentur pada dokternya sendiri yang belum menguasai prinsip pelayanan DK. Sistem itu begini, sebenarnya sudah ada bahwa pelayanan kedokteran itu terdiri dari pelayanan primer, sekunder, dan tersier. Sistem yang ada di program Depkes juga menyebutkan Puskesmas itu hanya melayani Unit Kesehatan Masyarakat (UKM), namun yang terjadi Unit Kesehtan Personal (UKP)-nya tidak terlayani.Terlayani sih terlayani, tapi tidak manfaatnya kurang terasa. Konsep itu yang seharusnnya ada, namun dilapangan kenyataannya tidak seperti itu. PDKI menghendaki UKM dan UKP berjalan di sebagaimana mestinya, bagaimana UKP adalah bagian dari UKM, dan bisa dikatakan Puskesmas adalah klinik DK. Selain peranannya sebagai UKM.

Namun yang terjadi, malah Puskesmas menjadi UKP, namun UKP-nya tidak berjalan maksimal karena terbentur fungsi Puskesmas sesungguhnya. Contohnya kontrol terhadap pasien tersebut tidak terjadi, karena misalnya dokternya ganti-ganti, atau dokternya sibuk memberikan penyuluhan kesehatan. Padahal kebanyakaan masyarakat kita lari ke Puskesmas jika sakit.

The continuity of care itu kan tujuannya agar semua orang terdaftar, memiliki rekam medis masing-masing. Sehingga dengan rekam medis yang bagus, bisa diaudit, bisa dipertanggungjawabkan, dan keuntungannya terhadap pasien mempunyai rekam medis masing-masing. Jadi DK dan PDKI misalnya duduk bersama membuat rekam medis standar yang bisa baik untuk Askes, untuk dokter praktek umumnya, dan baik untuk Dinkes, dan pesertanya. Dengan begitu akan ada data demografi, data biologi, dan yang ketiga data klinis. Ketiga data ini nanti akan sangat bermanfaat untuk memperhitungkan misalnya cakupan asuransi, estimasi biaya yang dikeluarkan Dinkes untuk meningkatkan derajat kesehatan, dan sebagainya. Manfaatnya sangat besar.

Pelayanan primer dilakukan oleh dokter praktek umum dengan menerapkan prinsip pelayanan DK. Jika dokter praktek umum tanpa penerapan prinsip DK Askes akan rugi. Mau tidak mau, Askes memerlukan DK untuk mengontrol biaya sehingga tidak terlalu tinggi.

The continuity of care ini juga akan meminimalisir perilaku peserta yang windows shopping, akhirnya malah peserta tidak mendapat manfaat yang sebenarnya. Rekam medisnya akan semakin tidak jelas, tidak ada tanggung jawab dari dokter, sehingga peserta tidak bisa menuntut jika terjadi apa-apa, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan kompetensi DK?

Kalau skill dan knowledge memang harus ditatar, lalu perilaku pun demikian, begitu pula dengan kinerja. PDKI bergerak atas dasar 4 pilar profesionalism, pilar yang pertama adalah perilaku, kedua ilmu, ketiga skill, dan keempat adalah kinerja. Kinerja berkaitan dengan ini semua, misalnya Anda seorang dokter, perilaku baik tidak pernah melanggar etik misalnya, tapi kinerjanya sehari hanya periksa 10 orang, itu kan tidak lucu. Itu kinerja. Belum lagi, seharusnya mengerjakan 10 pasien benar semua, ini bukan kinerja. Makanya itu ada pilar kinerja.Kinerja itu artinya mengerjakan secara benar dan baik, dan produktif. Dari semua keilmuan sama, tapi untuk perilaku dan kinerja ini yang perlu diasah.

Kalau dari institusi pendidikan apakah ada dukungan?

PDKI sebetulnya adalah organisasi yang memelas, karena upaya ini berkembang secara bottom up. Dari bawah ke atas. Jadi bukan top down, atau dengan kata lain dari Depkes. Kami sudah membuat kurikulum fakultas kedokteran (FK) saat ini, keluarannya atau output-nya dokter praktek umum yang mampu menerapkan prinsip-prinsip DK. Jadi, begitu lulus FK, dokter praktek umum ini akan mampu menjadi DK. Sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Askes sebetulnya. Mereka yang kurikulum 2005 ke atas akan begitu semua. Baru mulai 2005, kira-kira untuk lulusan 2011-2012.

Semua FK di Indonesia, berhasil menyusup kurikulum. Kita bergerilya mulai dari situ. Sekarang ini kita sedang bergerilya lagi, membujuk baik RS maupun institusi pendidikan (FK), untuk mendirikan departement of family medicine. Kalau di RS itu tempat gatekeeper-nya, kalau di FK itu tempat pendidikannya. Akhir tahun ini kira-kira sudah dimulai, yang sambutannya positif saat ini UGM dan UNS.

Setiap dokter memang seharusnya paham apa yang dimaksud dengan konsep dokter keluarga itu sendiri. Karena kenyataannya sekarang banyak dokter yang tidak jelas juntrungannya. Untuk itu PDKI giat melakukan pelatihan dan penataran.

Yang diperlukan di klinik DK itu juga sama dengan di klinik lain. Yang berbeda hanya pendekatannya. Kita juga akan memberikan pendidikan, misalnya cara menghitung kapitasi, karena memang menurut survey yang dilakukan Askes sebanyak 41 persen DK di Askes tidak memahami apa itu kapitasi. Bagaimana menghitung break event point juga diajarkan.

Jika semua dokter menjadi DK bagaimana dengan peran dokter spesialis?

Konsep DK ini sebenarnya sangat menguntungkan semua pihak. Buat spesialis, pengembangan spesialis, juga sangat menguntungkan. Dari segi keilmuan, DK adalah spesialis pelayanan primer, dokter spesialis mata, dokter spesialis anak, adalah dokter spesialis pelayanan sekunder atau bisa dikatakan tempat rujukan. Tetapi yang terjadi, karena kelemahan sistem, dokter spesialis umumnya praktek pelayanan primer. Contohnya dokter spesialis obgyn banyak yang melakukan tindakan bersalinan normal. Padahal bidan saja bisa.

Askes bisa berperan lebih galak menyikapi fenomena ini. Misalnya Askes tidak akan me-reimbust jika paserta langsung ke spesialis, tanpa ada surat rujukan, kecuali emergency. Siapa yang menentukan hal ini, ya tentu DK.

Di Negara ini, kita menghadapi triple bourden, yang pertama adalah penyakit infeksi, agenda yang belum terselesaikan, misalnya ISPA, maalnutrisi, angka kematian masih tinggi. Lalu munculnmya penyakit baru, DBD, HIV, avian flu, flu babi, itu yang lebih berat. Lalu yang ketiga adalah munculnya penyakit lama, TBC, malaria, kusta. Nah dimana fungsinya, karena dokter praktek umum tidak diberdayakan untuk mengatasi itu. IMR (Infant MortalityRrate) dan  MMR (Maternal Mortality Rate) tidak bisa diturunkan hanya mengandalkan dokter obgyn dan dokter anak. Harus dokter praktek umum yang turun tangan.

Misalnya vaksinasi harus dengan dokter praktek umum, buat apa ke spesialis. Capek-capek dan mahal-mahal sekolah spesialis hanya untuk vaksinasi. Nah jika dokter praktek umum mengembangkan pelayanan primer, spesialis tidak direcoki masalah primer, dia bisa mengembangkan pelayanan sekunder yang lebih baik, maka penyelesaian masalah sekunder akan lebih baik.

Lalu bagimana dengan legalisasinya?

Di SKN (Sistem Kesehatan Nasional) sudah ada. Secara politis, kalau kita menunggu tidak akan selesai. Kita kembangkan saja, toh tidak melawan hukum. Nama DK sendiri sebenarnya hanya istilah dan bisa disebut sebagai dokter praktek umum karena sifat prakteknya tidak dibatasi oleh golongan usia, jenis kelamin, penyakit, maupun organ. Disebut DK karena pendekatannya karena menggunakan prisip DK dan  sisebut dokter pelayanan primer karena kewenangannya sebatas pelayanan primer.

Bagaimana dengan pemahaman masyarakat itu sendiri?

Inilah yang menjadi tantangan untuk si Dokter. Si dokter juga harus professional serta kreatif karena yang dibutuhkan adalah kepercayaan pada si dokter. Pasien akan percaya jika kita bisa menunjukkan prinsip kita. Memang membina kepercayaan itu tidak mudah, namun bisa dipercepat. Misalnya membuat seminar gratis untuk peserta, lalu si dokter-dokter junior ini menjelaskan hal-hal yang kecil, misalnya bagaimana cara menyimpan obat, dan sebagainya. Itu semua diberikan secara bertahap tapi oleh dokter yang masih muda sehingga pasien lama-lama akan kenal.

Dokter juga harus memberikan kemudahan-kemudahan pasien untuk mengakses pelayanan kesehatan. Ini balik lagi ke perilaku si dokter.

Pesan Untuk Askes ?

Untuk itu Kerja sama yang lebih erat dalam pengembangan DK ini. Peserta Askes, berobatlah kepda dokter yang sama sampai dokter tersebut bilang anda harus pindah. Nah untuk dokternya, bagaimana caranya agar pasien terus percaya pada anda. Sebenarnya pasien juga harus diatur, kalau tidak akan abuse. []

Published in: on February 11, 2010 at 6:55 am  Leave a Comment  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: http://deeshampoqu.wordpress.com/2010/02/11/dr-sugito-wonodirekso-ketua-perhimpunan-dokter-keluarga-indonesia-tercapainya-pelayanan-berkesinambungan-dengan-dokter-keluarga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: