Museum Fatahillah dan Musem Wayang Tetap Mempesona Diantara Hiruk Pikuk Jakarta

img_5908

Jangan dikira hanya kemacetan dan kebisingan yang bisa kita temui setiap harinya di Jakarta. Di sudut-sudut kota yang usianya sudah 481 tahun ini, ternyata masih menyimpan sejuta pesona akan sejarah terbentuknya ibukota Negara tercinta inii. Wisata sejarah kota Jakarta di Kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat ini bisa dijadikan agenda belajar sambil refreshing ditengah kepenatan pekerjaan sehari-hari. Di kawasan yang berada tak jauh dari stasiun Kota Jakarta ini terdapat dua museum yang bisa kita kunjungi bersama kawan, kerabat, atau keluarga.

Kali ini Info Askes berkujung ke dua museum yang menyimpan sejuta pengetahuan akan sejarah kota Jakarta. Musem Fatahilah dan Museum Wayang yang menyimpan segala jenis wayang baik dari dalam maupun luar negeri.

Museum Sejarah Jakarta.

Bangunan yang dulunya merupakan Stadhuis (Balai Kota) Batavia tersebut, banyak menyimpan pesona. Museum Fatahilllah adalah satu museum terbaik di Jakarta. Bangunan kokoh yang merupakan salah satu bangunan tertua berarsitektur Belanda ini menyerupai istana Dam di kota Amsterdam. Selesai dibangun pada tahun 1710 dan dahulu digunakan sebagai Balai Kota (Stadhuis). Pada tahun 1974, gedung ini diresmikan menjadi Museum Fatahillah atau Museum Batavia atau dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta.

Dari segi fisik bangunannya memiliki daya tahan luar biasa. Bayangkan saya, bangunan itu peletakan batu pertamanya dilakukan 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (8) putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu van Hoorn. Berarti bangunan itu berumur hampir 300 tahun, dan masih utuh hingga sekarang. Kayu-kayunya belum lapuk, apalagi dinding betonnya masih kokoh hingga saat ini.

Terdiri dari 37 ruangan indah yang memamerkan perabotan berupa kursi dan meja bergaya Eropa. Ruangan-ruangan tersebut diberi nama Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Berbagai peta kuno, benda-benda antik peninggalan VOC, meriam si Jagur dan lukisan Jan Pieterszoon Coen ditampilkan, membawa kita ke suasana masa penjajahan dahulu. Sejarah kota Jakarta pun tertuang dalam beberapa peninggalan seperti kapak batu, batu prasasti, gerabah, dan keramik. Budaya Betawi diantaranya diwakili oleh patung berpakaian pengantin adat Betawi, ondel-ondel dan becak.

Pintu bagian depan, masih menampakkan keangkuhannya. Terbuat dari kayu jati tebal sekitar 10 sentimeter, dan tinggi lebih dari tiga meter. Dicat berwarna merah menyala, pintu tersebut tampak kokoh dan berwibawa. Sementara itu ketika memasuki bagian dalam gedung, tampak anggun tetapi sederhana. Hanya anak tangga menuju lantai dua yang terkesan mewah. Anak tangga tersebut dicat berwarna merah dan dihiasi Singa berukir di bagian bawahnya.

Di bagian bawah gedung, tersimpan puluhan koleksi berharga. Mulai dari batu-batuan zaman neolitikum dan peninggalan Kerajaan Purnawarman, hingga uang perak dan timbangan barang zaman Portugis.

Di bagian atas gedung, tersimpan puluhan koleksi barang-barang furniture. Kursi jati berumur ratusan tahun, meja pertemuan zaman Belanda, lemari arsip zaman VOC, tempat tidur raksasa, hingga kursi santai dan cermin kuno semua tersedia. Bahkan lukisan kayu yang menggambarkan keadilan Raja Sulaeman (Solomon) masih terpelihara dengan baik.

Sayang, hiasan indah di puncak atap di depan menara gedung museum, berupa patung Dewi Keadilan atau Dewi Yustitia kini sudah lenyap. Padahal, patung wanita dengan mata tertutup sambil tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang timbangan itu, dulu sangat favorit.

Semasa VOC dari gedung ini keluar berbagai peraturan yang merugikan pedagang Cina. Pedagang Cina menjadi obyek pemerasan VOC dengan cara mengenakan pajak kepala. Maklum, saat itu penduduk Cina cukup banyak jumlahnya di Batavia, yakni tahun 1619 sekitar 300 orang, setahun kemudian meningkat menjadi 800 orang dan tahun 1621 membengkak menjadi 2.100 orang.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, gedung yang dulunya bernama Stadhuis (Balaikota) ini juga menjadi tempat yang cukup disegani. Gedung Balaikota ini juga dilengkapi penjara buat para perampok, maling, dan militer yang disersi dan ruangan bawah tanah ini dahulu digunakan pemerintah kolonial sebagai penjara untuk menghukum pejuang kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro. Gedung ini juga memiliki ruang perpustakaan yang memuat koleksi buku sebanyak 12 ribu buah sehingga Anda dapat mengenal kota Jakarta lebih jauh.

Sekitar tahun 1743, ketika di Batavia dibangun jaringan pipa water leiding (air minum), di bagian depan dibuat air mancur yang boleh jadi air mancur pertama di Batavia. Karena itu tidak mengherankan pada sore hari, air mancur tersebut selalu menjadi tontonan masyarakat. Sayang, air mancur tersebut kemudian rusak dan sekarang sudah tidak ada lagi. Bahkan, rusaknya air mancur tersebut lebih dulu dibandingkan hilangnya Patung Dewi Keadilan.

Museum Fatahillah hanyalah salah satu di antara makin langkanya bangunan tua dan bersejarah di Ibu Kota, yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia terhadap pemerintah Belanda saat itu. Bangunan Museum Fatahillah ini, menorehkan banyak kenangan bagi mereka yang pernah tinggal, maupun yang hanya singgah di Jakarta tempo dulu. Hingga kini museum ini masih dikunjungi. Tak hanya oleh wisatawan lokal, namun juga oleh wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan Eropa.

Musium Wayang

Tak jauh dari Museum Fatahillah terdapat Museum Wayang merupakan sebuah museum yang menyimpan, merawat, dan memamerkan berbagai hal yang berhubungan dengan wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan luar negeri. Museum ini bertempat di sebuah bangunan tua yang berusia ratusan tahun dan hingga sekarang tetap berdiri kokoh dan anggun. Gedung museum yang berlantai dua ini berdiri di atas tanah seluas 935.25 meter persegi dan merupakan bangunan tua yang masih terpelihara keasliannya. Gedung bersejarah ini bahkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nations) dinyatakan termasuk dalam daftar 136 cagar budaya yang harus dilindungi.

Dalam sejarahnya, gedung yang digunakan sebagai museum ini telah mengalami beberapa kali perubahan dan renovasi, tetapi masih tetap mempertahankan struktur keaslian arsitekturnya. Dahulu, pada awalnya gedung ini bernama Gereja Lama Belanda (De Oude Hollandsche Kerk) yang dibangun pada tahun 1640 M. Pada tahun 1732 M, gedung ini diperbaiki dan berganti nama menjadi Gereja Belanda Baru (De Nieuwe Hollandsche Kerk). Namun, sejak terjadi gempa bumi pada tahun 1808 M, sebagian bangunan gedung bersejarah ini hancur dan kemudian dibangun lagi pada tahun 1912. Setelah bangunan berdiri kembali, gedung bekas gereja ini oleh Pemerintah Hindia Belanda dijual kepada sebuah perusahaan yang bernama Geo Wehry & Co dan dijadikan kantor hingga tahun 1934.

Pada tahun 1936, kepemilikan gedung tua tersebut berpindah lagi setelah dibeli oleh sebuah Lembaga Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Budaya di Batavia milik Pemerintah Belanda (Bataviaasch Genootschap van Kusten en Wetenschappen). Lembaga ini kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Belanda dan dijadikan sebagai Museum Batavia Lama (De Oude Bataviaasche Museum). Di masa penjajahan Jepang, gedung ini tidak mengalami perawatan yang maksimal dan terkesan ditelantarkan. Baru pada tahun 1957 gedung ini diserahkan pada Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Pada tanggal 17 September 1962, Museum Batavia Lama ini sepenuhnya dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Museum Jakarta, sebelum diserahkan pada Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Pada tanggal 23 Juni 1968, Pemda DKI kemudian menyerahkan pengelolaan gedung ini kepada Dinas Museum dan Sejarah. Semenjak dikelola oleh Dinas Museum dan Sejarah, gedung ini akhirnya dipugar dan secara resmi dijadikan Museum Wayang pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubrnur Jakarta saat itu Ali Sadikin.

Museum Wayang merupakan museum yang menyimpan koleksi berbagai jenis perlengkapan yang berhubungan dengan pembuatan dan pertunjukan wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan beberapa negara lain. Pengunjung museum ini dapat melihat berbagai koleksi wayang asli Indonesia, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang kaca, dan juga wayang-wayang langka, seperti wayang suket, wayang beber, dan wayang intan. Wayang intan yang terdapat di museum ini dahulu dibuat pada tahun 1870 M oleh Ki Guna Kerti Wanda dan merupakan salah satu koleksi tertua.

Selain memamerkan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia, di Museum Wayang ini juga terdapat koleksi boneka (wayang) yang berasal dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Kamboja, India, Cina, Pakistan, Suriname, Kanada, Amerika, Thailand, dan Inggris. Pengunjung juga dapat menyaksikan jenis koleksi lainnya, seperti topeng, patung wayang, dokumen, peta, foto-foto lama, dan alat musik wayang (gamelan).

Koleksi wayang yang terdapat di Museum Wayang, baik dari dalam maupun luar negeri, hingga April 2001 telah mencapai sekitar 5.147 buah. Pada bulan Juni 2006 jumlah koleksi museum terus bertambah hingga mencapai 5.500 buah.

DI bagian tengah gedung museum pengunjung juga dapat menikmati sebuah taman bernama taman JP.Coen yang di sana terdapat banyak prasasti peninggalan gubernur Batavia tersebut. Selain itu beberapa prasasti yang diukir adalah nama-nama orang yang dikubur di taman tersebut. Karena sejak ada gempa bumi beberapa kuburan dipindahkan ke museum Prasasti, sekitar daerah Tanah Abang Jakarta.

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Wayang juga dapat mengunjungi obyek wisata sejarah lainnya yang terletak cukup dekat dengan lokasi museum ini, seperti Museum Fatahillah, Museum Keramik, dan Balai Seni Rupa.

Selamat Berlibur! []

Published in: on February 1, 2009 at 6:18 am  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://deeshampoqu.wordpress.com/2009/02/01/museum-fatahillah-dan-musem-wayang-tetap-mempesona-diantara-hiruk-pikuk-jakarta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: