Pantai Kalasey, Manado : Santap Hidangan Laut Segar

Biasanya mendengar nama Kota Manado, yang terlintas adalah Bubur Manado, lalu akan bekembang menjadi 3B, bubur manado, bibir manado dan bobo sama manado. Ungkapan ini memang melihat Manado dari kegenitannya sebagai kota wisata. Kota Manado memang lagi berbenah dan memoles diri untuk menyambut World Ocean Conference 2009 yang akan mendatangkan ratusan utusan komunitas bidang kelautan dari manca negara, banyak hotel kelas internasional baru di bangun.

Pantai Kalase

Pantai Kalase

Namun di rubrik jalan-jalan kita kali ini tidak akan membahas tentang World Ocean Conference 2009, tetapi kita akan berkunjung ke salah satu tempat makanan favorit di kota yang dijuluki kota 100 gereja itu. 15 kilometer ke arah barat daya, terdapat sebuah kawasan pantai yang didalamnya berdiri rumah-rumah makan. Pantai kalasey merupakan tempat wisata kuliner di Manado yang menyediakan berbagai makanan sari laut, khususnya ikan bakar, dengan aroma dan rasa khasnya yang mengundang selera. Setiap pengunjung yang datang ke ibu kota Sulawesi Utara hampir pasti pernah datang ke kawasan itu.

Mengenalkan Pantai Kalasey sesungguhnya tidak sesulit saat mengenalkan obyek-obyek wisata lain. Di sana tersedia beragam jenis ikan segar dalam beragam jenis masakan, mulai dari jenis bakar atau panggang, kuah asam, ataupun goreng. Lebih mengesankan lagi, karena pedasnya sehingga setiap orang akan selalu mengingat Kalasey atau rumah makan Manado lewat ikan rica-rica (cabe). Rata-rata pengunjung yang baru dari Kalasey selalu berkomentar bahwa makanan atau ikan yang baru saja disantapnya rasanya gurih, enak, dan sedap. Bahkan khusus untuk jenis kepiting, tersedia kepiting kenari yang khas Sulawesi Utara.

Ukurannya jika kita makan seafood di restorandi Jakarta untuk 10 orang, bisa merogok kocek hingga 1 juta rupiah. Tapi di Pantai Kalasey Manado, dengan uang 500 ribu rupiah yang berarti separuh harga, yang kita makan ikan Kerapu, Bobarak, Udang, Kakap Merah, Ikan Tude yang penampilannya seperti ikan Kembung. Tentunya dengan rasa yang lebih enak, segar, dan jangan lupa melengkapinya dengan sambal dabu-dabu juga nikmat, apalagi lengkap dengan tumis bunga pepaya

“Biasanya kami membeli langsung ikan-ikan itu dari nelayan. Mereka mengambil langsung dari Gorontalo, Bitung dan sebagainya” ungkap Angkik salah satu pemiliki kedai.

Menurut cerita para nelayan, mulanya kedai-kedai ikan laut bakar ini hanya sebuah tempat pangkalan perahu para nelayan tradisional kampung Kalasey. Tahun 1988 atas saran sopir-sopir yang melintasi Trans-Sulawesi, beberapa nelayan pun tidak cuma menjual ikan mentah tetapi juga ikan bakar dengan singkong sebagai pengganti nasi. Sejak itu pula, bagian kecil dari Pantai Kalasey berubah menjadi langganan makan para sopir.

Entah bagaimana mulainya, lokasi itu tiba-tiba berubah menjadi ramai dengan pengunjung beraneka profesi, bukan hanya sopir, tapi juga ibu-ibu, pria-wanita, dan tua muda. Kalangan berdasi, turis mancanegara, hingga anak-anak muda setiap hari memadati Pantai Kalasey.

“Banyak turis yang datang, terutama turis Jepang, Singapura, dan Hongkong,” Ujar Angkik. Mereka makan ikan bakar di situ. “Sejak saat itulah makin banyak bermunculan kedai ikan laut bakar di kompleks ini,” tutur Pria yang sudah 15 tahun berjualan di Kalasey.

Sistem atau model pengelolaannya sangat sederhana. Setiap kedai hanya dilayani sepasang suami-istri. Tidak ada pelayan khusus seperti sebuah restoran. Tampak sederhana dan bersih.

“Terus terang, kami dulu tidak pernah membayangkan kalau tempat kami ini bisa dikunjungi turis-turis. Ini dulu cuma tempat jual beli ikan hasil tangkapan nelayan,” kata Bapak 2 anak ini. Dia mengaku senang karena tempat jualannya sudah sering diambil gambarnya dengan video dan kamera. Para pengunjung selain menikmati ikan di dalam kedai ada juga yang membeli untuk dibawa pulang. Bahkan ada yang memesan untuk dibawa ke Jakarta.

Ironi Kalasey

Tetapi seiring berjalannya waktu kedai-kedai makan milik para pengusaha kecil yang sempat mendominasi bisnis rumah makan di Pantai Kalasey ternyata tidak lagi diminati konsumen. Ironinya, pada umumnya pelanggan utama rumah makan milik para pemodal besar seperti Kharisma, Nelayan, City Extra adalah kalangan pejabat pemerintah, baik sebagai individu maupun instansi.

Para pengusaha kecil dibiarkan berjalan sendiri. Tema-tema ekonomi kerakyatan yang digunakan sebagai alat untuk meraih dukungan masyarakat ternyata cuma ada dalam wacana kalangan pejabat serta orang-orang pemerintah. Akibatnya, para nelayan yang ingin bangkit dari keterpurukan semakin terpinggirkan.

“Tentu ini sangat merugikan kami. Karena sejak lama kami menggantungkan hidup pada bisnis kedai makanan ini. Setidaknya ada jalan tengah yang bisa kita ambil bersama. Kami sangat mengiginkan peran pemerintah untuk bersikap arif memperhatikan nasib kami,” kesah Angkik.

Published in: on February 1, 2009 at 6:15 am  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://deeshampoqu.wordpress.com/2009/02/01/pantai-kalasey-manado-santap-hidangan-laut-segar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: