Lula Kamal : Dahulukan Pendidikan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan

Menjalani dua profesi sekaligus, yakni sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir, bukanlah urusan mudah. Namun itu tak berlaku bagi Lula Kamal yang menjalani profesi sebagai dokter, artis sekaligus ibu rumah tangga. Artis kelahiran Jakarta, 10 April 1970 ini dikenal sebagai seorang dokter yang sering mengikuti kegiatan sosial. Sebagai seorang dokter, dirinya terpanggil menyuarakan anti narkoba, gerakan jantung sehat, pembasmian nyamuk demam berdarah, dan flu burung.

Ia terjun ke dunia hiburan Indonesia dimulai saat menjadi None Jakarta tahun 1990. Nama Lula mulai dikenal luas saat menjadi presenter Buah Bibir di RCTI. Putri pasangan Kamal Muhammad dan Alwiyah Bawazier ini juga terjun ke dunia akting dengan turut berperan dalam film Berbagi Suami.

Sejak ditunjuk menjadi Konsultan Ahli Badan Narkotika Nasional (BNN), Lula cukup giat mengampanyekan dampak-dampak penyalahgunaan narkotika di berbagai tempat. Hal ini ditunjang dengan studi keilmuannya yang belajar soal rehabilitasi narkoba dengan mengambil program S-2 jurusan addiction di Kings College, Inggris. Bekal ini dibawanya ke Tanah Air untuk menangani pasien, khususnya para penderita penyalahgunaan narkotika.

Ketertarikan dokter lulusan Universitas Trisakti ini di bidang narkotika didasari rasa prihatin pada kondisi generasi muda yang terlibat penyalahgunaan narkotika. Terutama setelah bertemu dengan seorang pasien yang masih muda belia saat ia menjadi dokter jaga di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengambil ilmu kedokteran jiwa sekitar tahun 2000.

Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat menjadi tantangan sendiri bagi Lula. Bagaimana tidak, predikat dokternya tidak hanya dituntut bisa mengampanyekan masalah-masalah kesehatan tapi juga masalah sosial sampai politik. Lihat saja penampilan Lula saat menjadi presenter Gemari (Gerakan Masyarakat Mandiri) dan Sarapan (Saran dan Harapan) di TVRI Pusat Jakarta. Bahasanya lugas, cerdas dan interaktif. Sampai-sampai, dia punya pendengar istimewa yang rajin menelepon saat tanya jawab berlangsung.

Kali ini Buletin Info Askes berkesempatan berbincang dengan wanita cantik blasteran Arab, Sunda dan betawi ini. Lalu seperti apa pandangan Lula tentang kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya? Terlebih isu jaminan kesehatan secara nasional kini kian menggema. Sebagai dokter apa yang ia harapkan pada pemerintah akan permasalahan sosial yang mendasar ini. Berikut petikan wawancaranya bersama reporter Buletin Info Askes, Diah Ismawardani:

Bagaimana asal mula Anda menjadi Dokter? Apakah sudah menjadi
cita-cita dari kecil?

Sewaktu kecil,seperti kebanyakan anak-anak, cita-cita saya berganti-ganti. Setiap beberapa bulan, tergantung figur yang saya idolakan. Lepas SMA saya lebih tertarik pada mata pelajaran fisika dan matematika sehingga pilihan saya ke memperdalam ilmu teknik. Tetapi keluarga lebih menginginkan saya menjadi dokter. Ibu saya berpesan salah satu keluarga harus ada yang menjadi dokter. Karena itulah akhirnya saya memilih jurusan kedokteran
Lalu bagaimana asal mula anda menjadi Artis yang hingga kini tetap eksis?

Tawaran dunia entertainment datang setelah saya berhasil menjadi none Jakarta tahun 1990. Dari awal saya memang terjun sebagai presenter talkshow yang topiknya agak serius. Acara pertama saya “sebab akibat ” di SCTV, tetapi yang mengangkat nama saya adalah acara kedua yaitu ‘Buah bibir” di RCTI. Akhirnya sekarang sudah banyak sekali acara talkshow yang saya bawakan


Dan bagaimana Anda bisa menjalankan dua profesi dokter dan
keartisan tersebut? Apakah itu yang menjadi ciri khas Anda?

Menjalaninya sebetulnya tidak sulit asalkan saya mengerti prioritas. Dan karena saya tidak dikontrak ekslusif pada salah satu televisi saya dapat membagi pekerjaan dan waktu sesuai dengan kebutuhan saya. Dari sekian banyak acara televisi yang saya bawakan sebenarnya tidak bertitik berat pada kesehatan. Sebagian besar berhubungan dengan masalah aktual, walaupun kesehatan bisa termasuk disana.

Jadi profesi saya sebagai dokter membantu jika topik yang dibahas adalah kesehatan. Tetapi bukan karena profesi tersebut saya dipilih sebagai presenter. Walaupun bisa dianggap sebagai suatu nilai lebih, karena dokter dipandang sebagai profesi yang memerlukan kecerdasan.

Pengalaman menarik apa yang pernah anda alami ketika menjalankan
dua profesi tersebut?

Salah satu peristiwa menarik adalah sewaktu saya dapat tugas jaga malam di sebuah RS besar. Masuk pasien yang mengalami luka bakar cukup berat, bukannya langsung dilarikan untuk mendapat pertolongan, pasien dan keluarga yang mengenali saya, malah senyum2 dan meminta bersalaman. Sebelum pasien diberi pertolongan, sering juga terjadi pasien memilih saya karena merasa lebih kenal. Walaupun saya bukanlah yang sedang bertugas. Sewaktu di puskesmas, ada pasien yang datang hanya untuk kenalan dan bersalaman
Belakangan Anda sering muncul sebagai presenter di beberapa stasiun
televisi, apa yang menjadi visi dan misi Anda ketika menjalankan dua
profesi tersebut?

Saat ini saya membawakan sekitar empat talkshow di beberapa stasiun televisi. Kesemuanya tidak ada yang merupakan talkshow khusus kesehatan. Bisa dikatakan selain sebagai dokter saya menganggap presenter sebagai profesi saya. Sebagai presenter saya mengasah bakat saya, yang memang dari kecil suka bicara dan bertanya. Kedua profesi ini saling melengkapi dan mengisi kehidupan saya. Saya juga banyak diundang untuk menjadi pembicara pada acara seminar.Terutama seminar kesehatan, titik berat di masalah narkoba,seks bebas dan AIDS.
Setiap dokter pasti memiliki bidang khusus yang ditekuni, bagaimana
dengan Anda? Menurut kabar Anda concern di bidang Narkotika dan Obat
Berbahaya (Narkoba) ?

Saya mengambil S2 saya di bidang Adiksi, di King’s College London, ketika saya mendapatkan beasiswa dari British Council (Chevening Awards) sehingga bidang ini yang memang saya tekuni. Selain menjadi Konsultan ahli di BNN, saya banyak memberikan penyuluhan mengenai hai ini ke seluruh Indonesia.

Mengapa Anda tertarik mendalami bidang ini?

Saya prihatin sekali dengan masalah narkoba terutama jika disalah gunakan oleh anak atau remaja. Dampak penyalahgunaan narkotika akan lebih meluas lagi sekalipun sudah berhenti mengonsumsi, pengguna narkotika bisa saja terjangkit penyakit lain seperti hepatitis hingga HIV/AIDS. Korbannya bahkan bisa panjang ketika penderita kemudian menikah dan menularkan penyakit tersebut pada istri atau suami, bahkan anaknya.

Saya tidak akan pernah bosan mengampanyekan program-program BNN. Saya paham, buah kerja kerasnya saat ini mungkin baru bisa dipetik dalam 5-10 tahun mendatang. Namun, pemberian informasi yang jelas kepada masyarakat khususnya para generasi muda untuk Say No to Drugs memang harus terus digiatkan.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum paham bagaimana menghadapi kasus seperti itu apabila ada anggota keluarga atau teman dekat yang terlibat penyalahgunaan narkotika. Sering kali penderita dikucilkan dan dibiarkan begitu saja. Padahal, korban membutuhkan dukungan yang kuat dari orang-orang terdekatnya, khususnya secara moral.

Karena yang bisa mengenali perubahannya hanya orang-orang terdekatnya. Jika ada perubahan sekecil apa pun, harus diwaspadai, ditanyakan, dan dicari solusinya. Jadi, mereka yang terlibat penyalahgunaan narkotika tidak terus terjerumus semakin dalam ke lembah itu.

Lalu bagaimana solusinya?

Hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak turut menjadi kunci untuk membentengi anak dari pengaruh buruk di lingkungannya. Tak sekadar dekat, tambah Lula, kualitas hubungan harus pula dijaga. Orang tua tak hanya boleh melarang, namun harus memiliki alasan yang tepat kenapa hal itu tak boleh dilakukan.

Pendidikan agama pun, lanjutnya, tak semata lips service, tetapi ditunjukkan dalam perbuatan sehari-hari. Jika seseorang terjerumus, dia harus secepatnya mencari bantuan. Antara lain dengan menjalani rehabilitasi untuk korban penyalahgunaan narkotika. Sayangnya, hingga kini belum ada satu pusat penanganan korban penyalahgunaan narkotika yang memiliki berbagai fasilitas terapi pengobatan yang dapat dipilih oleh pasiennya.
Seperti di Inggris, ada terapi menggunakan akupunktur dan aromaterapi. Bahkan dokter yang menanganinya sampai pergi ke Cina untuk belajar akupunktur. Indonesia sendiri punya potensi yang cukup besar dan masih bisa dieksplorasi lebih lanjut. Siapa tahu ada jamu-jamu yang bisa mengobati para penderita penyalahgunaan narkotika. Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita.

Adakah pengalaman pribadi yang menarik selama berkecimpung di dunia
kesehatan dan concern yang Anda pilih?

Sebuah kejadian membuat saya tertarik, yaitu sewaktu sedang mengambil spesialis Kedokteran Jiwa. Saya pernah menemui kasus dimana seorang anak perempuan yang usianya baru 18, terkena infeksi jantung, tetapi kemudian diketahui bahwa hepatitis B,C dan juga HIV nya positif. Dan ini semua ternyata karena dia menggunakan putau sejak 4 tahun sebelumnya, dimana 2 tahun terakhir dia menggunakan jarum suntik. Kasus ini sangat menyedihkan karena si anak tersebut berasal dari keluarga yang baik, dengan ibu yang merupakan ibu rumah tangga.
Adakah cita-cita dan harapan yang belum terealisasi sampai
sekarang?

Harapan masih banyak lah, salah satunya sedang saya jalani yaitu menulis buku. Karena belum berpengalaman saya masih banyak perlu belajar. Film bukan menjadi cita-cita dan belum lama ini saya juga sempat membintangi sebuah film layar lebar berjudul CHIKA. Satu hal yang samoai sekarang ingin terus saya lakukan, saya juga masih ingin sekolah kembali untuk memperdalam ilmu saya. Doakan ya.
Menurut Anda bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia?

Jujur kesehatan masyarakat Indonesia sudah lebih baik, pengertian mengenai kesehatan juga meningkat walaupun belum membuat kita berada di posisi aman. angka kematian ibu dan bayi juga masih tinggi. Sementara kita juga mendapatkan ancaman dari penyakit lain seperti flu burung dan HIV/AIDS yang tergolong baru. Tingkat kebersihan masyarakat yang belum baik juga menyumbang pada tingkat kesehatan yang tidak dapat dibanggakan.
Menurut Anda perlukah jaminan kesehatan untuk masyarakat Indonesia?
Jaminan kesehatan masyarakat pasti dibutuhkan. Selain seharusnya menjadi hak, ini merupakan jaminan agar masyarakat, setidaknyadi kelas bawah mendapatkan pelayanan kesehatan. Tetapi selain jaminan ini yang juga harus dikembangkan lebih baik adalah peningkatan pendidikan kesehatan. Dengan begitu masyarakat bisa memiliki pola hidup yang sehat yang dimulai dari kebersihan. Saya beranggapan pendidikan kesehatan inilah yang akan menjadi dasar untuk membentuk masyarakat yang sehat, dan ini bukan hanya merupakan tugas dari departemen kesehatan. Kalau semua pihak bisa membantu maka tugas menyehatkan bangsa tentu bisa diraih lebih cepat.

Apa harapan Anda sebagai seorang dokter mengenai kesehatan
masayarakat Indonesia?

Saya berharap kesehatan bisa menjadi prioritas utama dalam kehidupan setiap orang di Indonesia, karena sebenarnya kesehatan adalah modal terpenting dalam kehidupan. Saya ingin melihat Indonesia yang sehat, seperti yang dicanangkan pada 2010. Walaupun kemungkinan 2010 tidak semua harapan bisa terkabul, mengingat waktu yang semakin dekat. Satu lagi saya ingin masyarakat Indonesia menemui dokter bukan hanya karena mereka sakit tapi lebih penting adalah menemui dokter agar tidak menjadi sakit. []

Published in: on February 10, 2009 at 12:51 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://deeshampoqu.wordpress.com/2009/02/10/lula-kamal-dahulukan-pendidikan-kesehatan-dan-jaminan-kesehatan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: