Program Promotif-Preventif itu Efektif dan Murah

Dr. Adang Bachtiar, MPH, ScD (Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) :

Seringkali orang mengartikan sama antara kesehatan dan kedokteran. Kesehatan memiliki domain perhatiannya lebih luas dari pada kedokteran. Yang jelas sasaran perhatian kesehatan tidak terbatas pada orang yang sakit saja melainkan juga orang yang sehat. Sedangkan kedokteran lebih menekankan perhatiannya pada orang atau masyarakat yang sakit.

Sifat upaya pada kesehatan bisa bersifat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat (promotif), pencegahan atau minimalisasi potensi resiko (preventif), pengobatan (kuratif ) dan pemulihan atau optimalisasi fungsi (rehabilitatif). Sedangkan pada kedokteran lebih menekankan pada upaya yang bersifat pengobatan atau kuratif yakni identifikasi penyebab sakit, serta memberikan tindakan untuk mengobatinya atau mengatasinya secara tepat, atau tindakan pencegahan terhadap tingkat keparahan yang lebih tinggi.

Oleh karena perhatian kesehatan lebih luas dari perhatian kedokteran maka dapat dikatakan bahwa semua upaya individu atau masyarakat yang ditujukan langsung untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan individu atau masyarakat itu adalah upaya kesehatan sebagai contoh ; pemberdayaan masyarakat bergaya hidup sehat, membangun rumah yang sehat, penyediaan air bersih yang sehat dan memadai, berolahraga, cara kerja yang sehat dan aman, cara makan yang sehat, memelihara kualitas lingkungan hidup manusia yang sehat, perencanaan pembangunan kota yang sehat, dan sebagainya, termasuk didalamnya pelayanan kedokteran kepada orang sakit.

Pemeliharaan kesehatan itu adalah hak azasi manusia, maka status kesehatan bangsa Indonesia ini tidak hanya dihasilkan oleh kinerja Departemen Kesehatan saja, melainkan merupakan resultante dari upaya bersama dari masyarakat dan pemerintah termasuk departemen non kesehatan. Oleh karenanya appresiasi dan support terhadap upaya masyarakat dan departemen lain perlu terus dikembangkan untuk mencegah persepsi bahwa upaya kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah yaitu sektor kesehatan saja.

Begitu pula dengan PT Askes (Persero) sebagai lembaga pemerintah di bidang kesehatan sangat diharapkan ada peran serta menjadikan masyarakat Indonesia menjadi sehat. Terlebih dengan dicanangkan visi Indonesia Sehat 2010 oleh pemerintah, perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

Selanjutnya kemampuan masyarakat yang diharapkan pada masa depan adalah yang mampu menjangkau pelayang kesehatan yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi, maupun non ekonomi. Pelayanan kesehatan bermutu yang dimaksudkan disini adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan pemakai jasa pelayanan serta yang diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika pelayanan profesi. Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku sehat serta meningkatnya kemampuan masyarakat tersebut diatas, derajat kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal.

Namunsebenarnya, untuk mewujudkan semua itu langkah apa yang harus dilakukan semua pihak yang terkait? Ketikan paradigma kesehatan dan kedokteran ini menjadi suatu pemahaman yang seharusnya sama dan ada di kepala tiap individu. Lebih jelas reporter Buletin Info Askes Diah Ismawardani kali ini berhasil mewawancarai Ketua Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Adang Bachtiar, MPH. ScD, berikut petikan wawancaranya :

Menurut Anda bagaimana kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini?

Memburuk. Pengertian memburuk begini, pertama kalo mau bahasa yang lebih eufimistik sedikit membaik. Tetapi pada beberapa sisi memburuk. Begini cara pandangnya kita bermain pada data, namun di satu sisi juga kita melihat suatu fenomena tertentu di masyarakat itu bisa dianggap sebagai indikator kegagalan sistem kesehatan yang ada.

Kita lihat seperti kasus Ponari. Dataran yg paling buruk they dont trust again with our system. Di dataran paling lunak, mereka merasa tidak bisa akses fasilitas kesehatan. Dengan mencari alternatif dengan biaya yang lebih acceptable yang dirasa lebih efektif, kesembuhan mungkin menurut dugaan mereka lebih baik dari pada pergi ke dokter. Dari pada pergi ke dokter uang yang dikeluarkan besar tapi tidak sembuh.

Yang ketiga jika kita berbicara tentang masalah kesehatan sebenarnya ada 3 komponen. Yang pertama proteksi kesehatan, kapasitasi sistem kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. , Kasus Ponari adalah bukti bahwasanya proteksi kesehatan failed. Juga bukti bahwa kapasitasi sistem kesehatan yang seharusnya bisa avalaible, fleksible, dan efektif untuk masyarakat juga dianggap failed. Dan juga bahwanya dalam konteks pemberdayaan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri tidak bekerja.

Bila sistem kesehatan dalam masyarakat bekerja, misalnya d isebuah masyarakat memiliki sebuah kelompok yang saling mengingatkan, sebuah solusi dengan membuat anggotanya sembuh dari sakit, membentuk dana sehat, lalu bisa digunakan untuk ke akses kesehatan. Maka dengan begitu aksesbilitas dan kapitasi dari pelayanan kesehatan akan terjadi. Menjamin aksesbilitas dan avalaibilitas yang bermutu. Sehingga masyarakat tidak memperlihatkan dengan masalah Ponari.

Selanjutnya dengan jaminan sosial, juga harus melingkupi tidak pada proteksi dan kapitasi sepenuhnya, tetapi juga harus ada upaya memberdayakan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri. Jadi ada konsep-konsep di mana orang harus bisa menolong dirinya sendiri. Artinya masyarakat harus didorong ke arah sana.

Namun pada kenyataannya secara terstruktur arah tersebut masih kurng. Dengan melihat seperti apa paket-paket  pelayanan kesehatan yang bersifat memberdayakan masyarakat, saat ini. Dengan mdnjadikan orang paham bahwa kesehatan itu menjadi haknya sekaligus menjadi tanggung jawabnya.

Jadi balik lagi ke mindset?

Benar sekali, perubahan mindset yang senantiasa dimiliki oleh masyarakat dan pemerintah. Selain pemahaman kepada masyarakat pemerintha juga harus lebih arif lagi dalam membuat suatu program kesehatan. Tetapi dalam perjalanannya yang saya lihat dan yang ada tidak pernah orang atau masyarakat itu dianggap subjek dalam pelayanan kesehatan. Melainkan dijadikan objek, yang kemudian ditentukan harganya.

Upaya pemerintah seperti menggratiskan pelayanan kesehatan itu baik, namun apakah tidak bertanya lagi ke masyarakat miskin do you really to stay healthy. Makanya perlu dibuat program yang mengarah ke sana. Membuat masyarakat untuk tetap sehat.

Misalnya dengan membuat akses informasi dan cara-cara hidup sehat. Jangan kemudian pas sakit baru dikasih pelayanan gratis. Hal ini harus sinkron dengan apa yang dipikirkan masyarakat sebagai the real costumer serta konstituen dalam pemenuhan pelayanan kesehatan. Upaya inipun juga harus didukung oleh para profesi yang paham betul akan permasalahan ini.

Jadi Anda menganggap upaya pemerintah saat ini kurang tepat?

Begini, pemerintah memiliki anggaran keseharan triliunan rupiah dan 80 % dari dana tersebut untuk diarahkan ke program seperti jamkesmas atau pengobatan gratis. Sangat jarang digunakan untuk program atau upaya-upaya bagaimana membuat masyarakat tetap sehat. Misalnya mengajak masyarakat untuk menggerakan badan dengan kata lain senam, sangat jarang. Lalu hal lain, ada tidak upaya mengajak masyarakat pada hal yang spesific prefention misalnya dengan membudayakan sitbeld lalu memberikan semacam social punishmen bila seseorang tidak  menjaga kesehatannya.

Padahal secara mendasar baiknya  anggaran kesehatana diarahkan lebih besar untuk menjaga masyarakat untuk bisa hidup sehat. Caranya dengan menggalakkan program-program  promotif dan prefentif. Promotif itu bukan hanya  berarti promisi kesehatan misalnya lewat media massa seperti televisi. Tetepi kemudian didukung dengan upaya bahwa masyarakat adalah subjek dari pembangunan kesehatan.

Da 5 level cara promosi yang baik. Pertama dengan terus menerus melakukan perubahan knowladge, attitude dan practice dari individu, keluarga, serta masyarakat. Kedua ada upaya sistematik dalam sistem kesehatan yang ada dengan bermacam program yang kemudian akan mendeteksi siapa sesunguhnya tokoh masyarakat yang senantiasa turut berjuang untuk mengubah keadaan tersebut. Misalnya membawa MUI, IAKMI dalam profesi, dalam kasus fatwa rokok, sebagai profesi kesehatan masyarakat IAKMI berhasil mengadvokasi pada MUI dengan mengharamkan rokok. Hal-hal seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh kalangan profesi.

Yang ketiga bagaimana dalam sistem organisasi, lembaga misalnya melarang untk angotanya merokok. Membuat sebuah regulasi untuk menjaga kesehatan. Lalu level keempat menyusun kebijakan kesehatan yang menguntungkan masyarakat. Jadi membuat kebijakan kuratif adalan nonsense akan percuma. Kebijakan-kebijakan misalnya dengan program PHBS. Yang terjadi selama ini pemerintah seperti sinterklas. Sebenarnya memberi pelayanan kesehatan gratis kurang tepat, dengan begitu akan mematikan kreativitas masyarakat untuk menjga kesehatannya sendiri.

Bisa jadi rakyat berpikir, tak perlulah saya menjaga kesehatan toh jika saya sakit ada yang meng-cover. Padahal sebelum ada kebijakan ini ada banyak usaha-usaha kreativ masyarakat untuk hidup sehat, misalnya dengan membentu dana sehat, dan sebagainya. Pemerintah sebaiknya jangan  membuat kebijakan rakyat yang populis, namun sebenarnya salah dan menjadi racun.

Kelima, adalah public healthy police yang berorientasi memproteksi, meningkatkan, menyadarkan, membangkitkan aktivitas pada tiap individu dan masyarakat. Contoh, sediakan sarana olah raga, sarana bersepeda di jalan, membuat kebijakan membangun rumah dengan bahan yang tida membahayakan kesehatan keluarga, impor makanan yang lebih berkualitas, dan sebagainya.

Misalnya masalah rokok, saya merasa pemerintah kurang meratifikasi dalam penanggulangan tembakau dengan ketat. Padahal di negara lain juga tidak begitu masalah. Ada aksi penyadaran ttg bahaya rokok. Rokok itu seperti ganja ada unsur adiktif. Maka tugas pemerintah adalah mencegah masyarakat masuk ke dalam  ranah tersebut.

Tetapi kan pemerintah membentuk SJSN, apaka menurut Anda sudah tepat?

Filosofi sebenarnya bagus. Tetepi harus lihat kapasitas. SJSN suatu yg mulia, tetapi kalau negara ini tidak serius menjalankannya, kapasitasnya pun tidak dicukupkan pasti tidak akan jalan. Untuk itu jangan berhenti untuk belajar, jangan pula beranggapan ini adalah senjata pamungkas. Nothing is perfect.

Siapapun yang menciptakan SJSN ini harus berkewajiban selalu bersikap selalu melihat celah dan kemudian memperbaiki sehingga tujuan tercapai. Jangan pernah berpikir there’s nothing solution except SJSN. Itu sangat berlebihan. Tuhan tidak menciptakan satu sistem, banyak sistem dengan kerahmatan keluasan rizkinya. Oleh karena itu selalu tengok, tengok, dan tengok lalu kemudian disempurnakanlah. Jauhi arogansi, dengan demikian mudah-mudahan ini akan menjadi solusi serta membuat tatanan yang lebih baik. Setiap langkah kita evaluasi. Lalu pelan-pelan kita naik dan maju. Dengan begitu kita akan menjadi waspada. Karena ini sistem yang dibuat manusia, yang mungkin saja banyak celahnya.

Banyak orang yg kemudian terbinar-binar melihat negara lain sukses. Tetapi kemudian beranggapan di Indonesia juga akan mengalami hal yang sama. Padahal hal ini sangat kontekstual. Pelaksanaan apapun perhatikan masalah konteks, yang dilihat dari kesiapan orang, kesiapan sistem, jangan memaksakan karena bisa berbahaya.

Untuk itu diperlukan jiwa-jiwa aliansi, bermitra, low profile, serta leadership yang mampu  menerima kelebihan orang lain. Jangan merasa dirinya paling benar. Seperti slogan tut wuri handaynai. Ada semacam slogan filosofi kebersamaan, pengorbanan, senang dirasakan bersama , susah dengan juga dihadapi bersama.

Lalu konkrit yang semestinya dilakukan pemerintah seperti apa?

Buatlah program-program kesehatan yang serius dan menarah ke program promotif dan preventif. Misalnya rencana jangka menengah 2010-2014 nnti betul-betul memperlihatkan priorits-prioritas tersebut. Yakini bahwa kegiatan2 promotif dan prefentif, sebagai seuatu jalan keluar yang murah tetapi sangat efektif.

Pikirkan bahwa dalam strategic planingg nanti itu tidak sekedar memproteksi orang tersebut saat sakit, tapi bagaimana mindset untuk tetap sehat itu selalu melekat di tiap kepala masyarakat Indonesia. Jangan membuat kebijakan yang membuat masyarakat menjadi abusing. Ketergantungan dengan pengobatan gratis, sehingga tidak mempedulikan kesehatannya. Padahal ini bisa berdampakpada kerugian pengeluaran biaya pemerinah sendiri.

PT Askes (Persero) sepanjang tahun 2008 menggalakkan program promotif dan preventif, dan akan lebih diperluas cakupan dan kegiatannya di tahun ini. Apakah menurut Andahal ini sudah tepat?
Pikirannya tepat, mindsetnya sudah tepat tetapi harus ada pembuktian bahwasanya kegiatan yang telah dilakukan berjalan efektif. Indikator keberhasilan ini bisa dilihat, bisa tidak klaim yang diajukan ke PT Askes (Persero) menurun sebagai akibat dari efektifnya program promotif dan preventif yang dikerjakan. Lalu para peserta Askes telah menyadari betul bahwa kesehatan adalah sesuatu yang mahal.

Memang sebagai lembaga kesehatan sudah menjadi kewajiban bagi PT Askes (Persero) untuk menggalakan program promotif dan preventif. Terlebih pemerintah yang seharusnya mengajak lebih banyak instansi kesehatan lain untuk program ini. Yakini bahwa program promotif dan preventif adalah hl yang murah dan efektif menjadikan masyarakat Indonesia untuk tetap sehat. []

Published in: on June 8, 2009 at 2:52 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://deeshampoqu.wordpress.com/2009/06/08/program-promotif-preventif-itu-efektif-dan-murah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: