41 Tahun PT Askes (Persero) : Pertambahan Usia Seiring Mimpi Askes Semesta

41 Tahun PT Askes (Persero)

Pertambahan Usia Seiring Mimpi Askes Semesta

 

Asuransi Kesehatan Semesta, adalah sebuah impian yang selalu dicita-citakan oleh Prof. Gerrit A. Siwabessy. Tokoh asal  Maluku yang pada era terbentuknya Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pada saat itu juga muncul UU No 9 tahun 1960 yang menjelaskan  tentang pokok-pokok kesehatan dan pada salah satu pasalnya, yaitu  Pasal 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam usaha kesehatan pemerintah.

 

Maka bertitik tolak dari pemikiran ini, maka Prof. GA Siwabessy mengajukan sebuah gagasan untuk perlu segera menyelenggarakan program asuransi kesehatan yang di negara maju telah berkembang pesat. Memang saat itu kepesertaannya baru mencakup pegawai negeri sipil, veteran dan perintis kemerdekaan beserta keluarga saja. Namun Prof. GA Siwabessy yakin suatu hari nanti, klimaks dari pembangunan derajat kesehatan masyarakat Indonesia akan tercapai melalui suatu sistem yang dapat menjamin kesehatan seluruh warga bangsa ini. Dibentuknya BPDPK pun diharapkan menjadi cikal bakal terwujudnya impian tersebut, Asuransi Kesehatan Semesta.

 

Keiinginan yang sudah terbangun sekitar 41 tahun yang lalu, tentu setahap demi setahap senantiasa diwujudkan oleh perusahaan yang kini bernama PT Askes (Persero). Mengapa disebut kini, karena dalam perjalanannya PT Askes (Persero) yang awalnya bernama BPDPK itu mengalami begitu banyak perubahan, baik secara hukum, nama serta kinerja yang tentu saja diharapkan turut ambil bagian dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat.

 

Ulang Tahun, Adakah yang Berubah?

15 Juli, adalah tepat usia perusahaan ini menginjak angka 41. Mendengar kata ulang tahun, sebagian orang mungkin akan berpikir dan mengaitkannya dengan pernak-pernik, seperti kue ulang tahun, balon, nyanyian dan aktivitas penunjang lainnya. Namun tidak untuk perusahaan sekaliber PT Askes (Persero) ini. Dipertambahan usia ini tentu sangat diharapkan adanya perubahan yang berarti seiring mimpi yang telah dibangun oleh bangsa ini. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa mantan Direktur PT Askes (Persero), salah satunya Dr. Sonja Roesma.

 

“Beberapa kali PT Askes (Pesero) mengalami transformasi yang cukup berarti. Dan perubahan itu menuntut bukan hanya dari segi hukum dan sistem manajemen yang mempengaruhi proses bisnis, tetapi juga mental yang dimiliki setiap pegawainya. Saya ingat bagaimana kondisi pegawai Askes saat saya baru menginjakkan kaki di perusahaan ini tahun 1992. Sungguh menyedihkan,” ungkap perempuan yang delapan  tahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Askes (Persero) (1992-2000).

 

Margaret Thatcher. Julukan yang masih Sonja ingat saat memulai kariernya di PT Askes (Persero). Menurutnya julukan itu muncul karena secara signifikan banyak yang dia lakukan untuk mengubah sikap dan mental yang dimiliki oleh pegawai PT Askes (Persero). Terutama tambah Sonja, pada perilaku disipilin dan rasa kebanggaan yang dimiliki oleh pegawai Askes. Sonja mulai mengambil kebijakan-kebijakan seperti aturan yang mengatur disipilin waktu bahkan sampai mengikutsertakan pegawai Askes pada latihan-latihan kemiliteran.

 

Selain itu, Sonja juga mulai mengikutsertakan pegawai dalam pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas kinerja serta aspek keilmuan yang agar pegawai Askes secara komprehensif. Dengan demikian pegawai Askes memiliki keterampilan, pengetahuan, serta disiplin waktu yang diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme kerja karena saat itu (1992) status perusahaan juga sudah berubah menjadi sebuah perusahaan umum. Bukan badan dibawah Kementerian Kesehatan lagi.

 

Cerita-cerita di atas juga dibenarkan oleh salah satu mantan direksi PT Askes (Persero), dr. Tjoet Josephine Maran Safri, SKM. “Saat jaman ibu Sonja, yang diubah adalah disiplin pegawai. Terlambat 15 menit, pintu dikunci. Ibu Sonja keliling melihat ada yang leha-leha tidak saat jam kerja. Akhirnya kita memasukan pegawai ke sekolah pendidikan militer selama sebulan. Saat itu dimulai saat perang Kosovo, dan  saya baru pulang dari Amerika untuk seminar yang membahas tentang sistem managed care tahun 1992.  Karena pelatihan militer ini, manajemen banyak mendapatkan surat kaleng, sangat banyak, isinya: apakah kami mau di-Kosovokan? (dikirim ke perang Kosovo.red),”  kenang perempuan kelahiran Payakumbuh ini sambil tertawa.

 

Lain lagi cerita dari Dr. Sulastomo, mantan Direktur Operasional dan Direktur Perencanaan dan Pengembangan pada tiga massa kepemimpinan yaitu saat kepemimpinan Dr. I.G.M Brataranuh, Dr. Sri Suwarsi, serta Dr. Sonja Roesma. Pada saat perubahan status hukum BPDPK menjadi Perum Husada Bakti (PHB), begitu banyak perubahan dari segi manajemen yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta efisiensi yang berarti. Seperti konsep serta kebijakan yang mengatur tentang Daftar Plafon Harga Obat (DPHO), sistem kapitasi untuk Puskesmas, tarif paket untuk rumah sakit, konsep dokter keluarga, konsep wilayah, konsep rujukan, pembakuan sistem pencatatan dan pelaporan data minimal, standar pelayanan dan tarif rawat inap, standar pelayanan jantung  dan hemodialisa, serta Sistem Informasi Manajemen (SIM).

 

“Hal-hal seperti itu kami lakukan mengingat dulu BPDPK selalu rugi, karena sering terjadi penyelewengan dimana sistem mengendurkan aturan-aturan yang ada. Misalnya untuk DPHO dulu belum ada, maka tagihan obat sering tidak masuk akal. Untuk itu manajemen saat itu banyak membuat kebijakan dan aturan yang diharapkan dapat menghilangkan celah-celah tersebut,” cerita pria yang saat ini sibuk menjadi Pemimpin Umum di salah satu koran harian di Indonesia.

 

Hasilnya lumayan, tambah Sulastomo, dalam arti mengurangi berbagai hal yang negatif termasuk dapat menghemat dana yang tersedia. Memang pada awalnya banyak sekali yang menentang berbagai kebijakan tersebut, misalnya DPHO yang dulunya dirasa dapat memonopoli industri dan bisnis obat di Indonesia. Namun karena keteguhan prinsip dan idealisme manajemen saat itu untuk memperbaiki sistem yang ada di perusahaan, maka segala rintangan tersebut dapat terlewati.

 

“Kita semua harus sadar, kesehatan jangan pernah disamakan dengan bisnis, ini adalah hak setiap individu dalam suatu negara. Keseriusan inilah yang diharapkan terus ada dalam benak masing-masing pegawai Askes sampai sekarang, “ ujar Sulastomo yakin.

 

Josephine juga mendukung apa yang diyakini Sulastomo, “Yang paling banyak bicara soal perubahan itu Tom. Dia sangat eager, selain Dirut. Direksi kita sangat kuat saat itu, dalam diskusi semua mendukung perubahan Askes menuju Perseroan. Kami dengan Depkes pun sangat dekat. Kita juga dibantu Sekneg dalam menggolkan perubahan. Ini bukan perjuangan kecil. Dengan perubahan, PT Askes (Persero) kini lebih fleksibel,” tambah Josephine.

 

Hari ini dan Besok Harus Lebih Baik dari Kemarin

Perubahan demi perubahan yang dialami PT Askes (Persero) memang harus senantiasa dilakukan menuju kinerja prima yang terus digaungkan. Bahkan pihak eksternal perusahaan banyak yang mengakui kinerja yang saat ini diberikan PT Askes (Persero) semakin baik dari waktu ke waktu. Memang setiap harinya PT Askes (Persero) menekankan untuk selalu melakukan peningkatan kinerja dan produktivitas yang berbasis pada budaya perusahaan : integrity,  team work, service excellence dan continuous learning.

 

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada) Indonesia, Dr. Hanna Permana Subanegara. Ia mengatakan PT Askes (Persero) saat ini adalah semakin fleksible dan profesional dibanding beberapa tahun yang lalu. Menurut Hanna juga, memang saat ini PT Askes (Persero) merupakan satu satunya asuransi yang sudah memiliki jam terbang tinggi dan langganan terbanyak. Seluruh RS Daerah telah bekerja sama sejak lama sebagai mitra kerja yang saling menguntungkan.

 

“Saat ini perkembangan PT Askes (Persero) kami anggap cukup pesat dan beberapa perubahan yang kami rasakan adalah, semakin transparan dalam perbaikan manajemen serta dalam perbaikan hubungan antara PT Askes (Persero) dengan RSD di seluruh Indonesia. Yang perlu ditingkatkan kedepan adalah keterbukaan, dan memberikan fleksibilitas yang memadai terutama dalam hal pemahaman jenis penyakit dan obat obatan yang dibutuhkan. DPHO harus lebih melebar sesuai dengan perkembangan penyakit dewasa ini,” jelas Hanna.

 

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Kementerian Negara BUMN DR.IR Muhammad Said Didu yang juga mengungkapkan apresiasinya pada kinerja PT Askes (Persero) saat ini. Bagi dia, memang inilah yang harus senantisa dilakukan oleh perusahaan negara, peningkatan produktivitas dan pelayanan terutama untuk perusahaan jasa yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

 

“Sejak tidak dikenakan deviden, saya melihat kinerja yang cukup kental positif terutama dalam hal pelayanan. Hanya saja memang perlu koordinasi yang intensif dengan rumah sakit sebagai penyelenggara pelayanan. Terlebih sebentar lagi PT Askes (Persero) akan menjadi BPJS, tentu beban kerja akan semakin besar maka diharapkan aspek-aspek yang mendukung implementasi program tersebut disiapkan dengan benar dan seksama,” jelas Said disela-sela kesibukkan, saat Info Askes bertandang ke kantornya.

 

Memang sudah tidak bisa dipungkiri, komitmen untuk senantiasa melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya adalah harga mati yang harus terpatri dalam diri PT Askes (Persero) sebagai perusahaan besar yang sudah establish sejak lama. Segala pengalaman panjang yang mengajarkan perusahaan ini hingga sampai mencapai bentukkannya yang seperti sekarang adalah modal dan kekuatan yang pastilah amat berharga untuk menyongsong hari depan yang lebih baik. Demikian yang disampaikan oleh CEO PT Askes (Persero) I Gede Subawa.

 

“ Modal inilah yang diharapkan memacu semangat para awak Askes untuk memberikan kinerja yang prima. Dan saya benar-benar bisa merasakan perubahan yang sangat signifikan saat ini, yaitu munculnya rasa bangga yang luar biasa para pegawai terhadap perusahaan. Harap saya, rasa bangga menjadi pegawai Askes dapat ditularkan kepada istri atau suami serta anak-anak pegawai PT Askes (Persero), saya pun turut bangga akan hal ini. ” tutur pria pada periode sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasional ini.

 

Perbaikan Citra, Menuju Perusahaan yang Diakui, Dibanggakan dan Didambakan

Dalam perjalanannya PT Askes (Persero) telah menelan asam, manis dan pahit pengalaman menjalankan apa yang menjadi tugas dan kewajiban sebuah perusahaan jasa.  Apa yang telah terlewati inilah yang memunculkan citra tersendiri di mata peserta, mitra kerja, dan masyarakat Indonesia secara umum.

 

Suka duka yang pernah dihadapi PT Askes (Persero) dalam menjalankan setiap tugas baik yang diamanatkan pemerintah maupun peserta di luar amanat pemerintah, hingga membentuk sebuah citra adalah hasil dari kinerja yang dilakukan sebelumnya. Tentu kita tidak bisa menutup mata atas citra yang kurang bisa diterima di masa silam yang muncul di benak para peserta, mitra kerja, serta masyarakat Indonesia.

 

Justru hal itulah yang harus menjadi cambuk bagi seluruh Duta Askes, untuk instrospeksi, menundukkan kepala, namun bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya. Justru saatnya bagi seluruh awak Askes untuk bisa menunjukkan perubahan yang berarti, penuh inovasi dengan ketulusan karena proses pendewasaan diri bagi perusahaan tidaklah  berhenti pada satu titik. Satu lagi, mantan Direktur Utama PT Askes (Persero) dr. Orie Andari Sutardji MBA pun turut angkat bicara.

 

“Inilah yang saya lihat dari pegawai Askes sekarang. Senantiasa terus berupaya mengembalikan citra positif perusahaan yang tentunya diiringi dengan menunjukkan kinerja yang dapat dilihat nyata benar adanya. Salah satunya dengan munculnya kembali media ini, Info Askes, yang diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung antara internal dan eksternal perusahaan, “ papar Orie saat  ditemui di kediamannya di kawasan Cibubur, Depok.

 

Orie juga menyebutkan kini ia benar-benar bisa melihat dan merasakan semangat yang ditunjukkan pegawai Askes untuk kinerja yang lebih baik. Selain itu wanita yang juga delapan tahun menjabat sebagai Direktur Utama ini juga mengemukakan kini sangat terlihat pegawai Askes merasa bangga menjadi seorang pegawai PT Askes (Persero).

 

Hal serupa juga diungkapkan oleh Josephine yang merasa pegawai Askes kini dari segala unit dan level kerja terlihat sangat kompak. Ia pun menambahkan yang harus dilakukan PT Askes (Persero) saat ini adalah sosialisasi. Membuat masyarakat paham bahwa masyarakat  harus mau bergotong royong (share) untuk mewujudkan pembangunan kesehatan yang mumpuni.  Sosialisasi yang baik dan tepat sasaran diharapkan  akan memunculkan pemahaman dan jika seluruh peserta, mitra kerja, dan masyarakat sadar, maka citra positif tentu akan tercipta di mata mereka.

 

Upaya perbaikan citra ini juga diakui oleh Muhammad Said Didu sudah terlihat hasilnya. Respon-respon positif sudah mulai terdengar dari stake holder yang berkaitan dengan proses bisnis PT Askes (Persero) termasuk Kementerian BUMN. Namun Said menekankan, PT Askes (Persero) akan dianggap lebih berhasil jika seluruh masyarakat mulai sadar akan keberadaan Askes dan dengan sendirinya mendaftar ke Askes.

 

“Jika suatu kelompok masyarakat mulai dengan sendirinya mendaftar untuk ikut Askes, dengan kesadaran mereka sendiri, tanpa dipaksa atau karena kewajiban. Maka Askes bisa dikatakan berhasil. Itulah indikatornya,” tegas Said.

 

Untuk itu seiring dengan harapan tersebut, kini PT Askes (Persero) bertekad untuk tidak lengah atau berpangku tangan dalam menghadapi tantangan demi tantangan ke depannya. Ini dimulai dari membangun kebanggaan dalam diri masing-masing pegawai Askes. Seperti yang diungkapkan I Gede Subawa, Direktur Utama saat ini, di sela-sela aktivitas kerjanya pada Info Askes.

 

“Kami memiliki motto Bring Askes to The Top, yang diharapkan menjadi jargon yang terpatri dalam diri tiap Duta Askes. Duta Askes akan terus kami pacu untuk meningkatkan kinerja serta produktivitas yang didukung dengan SIM serta Askes Manajemen Sistem itu sendiri. Dengan begitu diharapkan dengan meningkatnya kinerja serta produktivitas maka akan tercipta kepuasan yang dinyatakan oleh pelanggan. Jika pelanggan sudah puas maka pegawai Askes tentu akan bangga bekerja di Askes, dan otomatis pelanggan akan mengakui keberadaan Askes. Setelah diakui tentu pelanggan akan bangga menjadi peserta atau mitra Askes, dan pada akhirnya jika pelanggan sudah bangga, maka PT Askes (Persero) akan menjadi dambaan serta harapan  mereka untuk masalah kesehatan, “ jelas Bapak dua anak ini.

 

Gede juga menambahkan, diharapkan jika seluruh pelanggan sudah mendambakan kehadiran PT Askes (Persero), maka akan lebih mudah saat menjalankan implementasi UU no 40 tahun 2004 tentang SJSN yang seyogyanya mulai dilakukan tahun ini. Karena ini merupakan mimpi yang terpendam selama hampir 41 tahun lamanya. Gede juga menyatakan PT Askes (Persero) telah siap menjalankan implementasi ini, bahkan siap jika harus dituntut untuk berlari dalam mewujudkan mimpi “Asuransi Kesehatan Semesta”.  []

Published in: on November 4, 2009 at 9:01 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://deeshampoqu.wordpress.com/2009/11/04/41-tahun-pt-askes-persero-pertambahan-usia-seiring-mimpi-askes-semesta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: